Saturday, June 21, 2014

So Long, Buddy


beberapa tahun lalu, masih ingat betul waktu abang pulang dari tahun baruan di rumah temennya. dia masuk sambil senyum-senyum, jenis senyum yang bikin siapapun yang ngelihat mukanya pasti bawaannya pengen ngegetok kepalanya. Terus dia pelan-pelan buka ritsleting ranselnya dan, tadaaa... nyembul kepala mungil warna itam dari dalam ransel.
sempat berdebat soal nama, aku usulin ngasih namanya Einstein tapi akhirnya harus puas di-outvoted sama abang dan adek yang lebih setuju dia dinamai Bagong.
Bagong. ya. anjing sekecil itu dikasih nama sedodol itu. your dog is what you name him, kalo kata orang. dan jadilah dia Bagong, anjing kecil yang ususnya kayanya sampe jari kaki sampe-sampe ga ada kenyang-kenyangnya when it comes to food.


seperti puppies pada umumnya, tingkahnya nggak jauh-jauh dari 1 kata: ngegemesin. dikasih minum susu, malah ngantuk sampe kepalanya kecemplung ke dalam mangkok. dipanggil, malah kabur ke kolong kursi. butuh waktu beberapa hari sebelum dia mulai beradaptasi. dan begitu dia beradaptasi? tingkahnya cuma bisa digambarin dengan satu kata: gila.
ya, Bagong. hobinya mencicipi semua yang ada di deket mulutnya, dari mulai kaki sofa sampe kaki manusia. sodorin jempol kaki dan dia bakal datang sambil ngibas-ngibasin ekor. kalau anjing lain datang kalau kita mendecak atau manggil namanya, Bagong cuma bakal datang kalau denger suara denting sendok dan piring kaca. karena itu berarti satu hal buat dia: waktu makan.

setelah 3,5 tahun, pagi ini tiba-tiba dapat telepon dari rumah. Mama nangis dan bilang kalau Bagong udah nggak ada. diracun, sepertinya. di belakang mama aku bisa denger suara adek, sepertinya lagi nangis.
reaksiku? bengong, awalnya. sambil mikir dalam hati kalau mungkin Mama lagi bercanda, jokes Minggu pagi, barangkali. tapi nggak mungkin, mama bukan tipe yang begitu. dan ini bukan April Mop.
jadi reaksi kedua setelah pulih dari bengong cuma satu: nangis.
kata orang, kalau kelopak mata gerak-gerak, berarti mau dapat kabar sedih. jadi mau nggak mau aku langsung mikir, "oh, mungkin ini alasan kenapa berapa hari belakangan ini kelopak mata kiri gerak-gerak."
jadi begitulah. setelah 3,5 tahun. Bagong pergi gitu aja. bahkan nggak mau nunggu sampai aku pulang ke Medan, padahal aku udah pesan tiket.
dia pergi, bukan dengan sukarela. dia dibunuh. diracun. Am I sad? undeniably. Am I angry? for sure. tapi aku juga tahu, marah nggak akan bisa balikin Bagong lagi. untuk mas/pak/mbak/siapapun yang udah ngeracun Bagong, saya cuma berdoa semoga anda sudah puas, dan bisa lebih tenang sekarang setelah anjing saya pergi. Dan semoga tidak ada anjing lain yang jadi korban anda, cukup anjing saya saja. Dan semoga anda nggak ngerasain apa yang saya dan keluarga saya rasain, heartbroken because our precious buddy has been taken away from us. semoga Tuhan memberkati anda, Sir.
dan untuk Bagong, so long, Buddy. You will always be loved and missed. Sekarang udah punya banyak temen yah di surga? jangan nakal-nakal yah, di sana.
You're not just a pet, you're part of our family. Always have been, and always will be.
I love you, Bagong :')






Nasionalisme Musiman

Judulnya mungkin tidak sedap didengar. Musiman? Memang buah?
Tapi makin mendekati pemilu, cuma ini yang selalu melintas di kepala setiap kali membaca komentar-komentar di artikel seputar Pencalonan Presiden.
Ke mana kita selama ini? Sudah bisa berbuat apa kita buat negara? Sudah mendapati temuan apa yang bisa bikin Indonesia bangga? sudah memberikan kontribusi apa, selain hujatan pada pemerintah dan kabinet yang kita nilai tidak berhasil?
Selama ini ke mana kita? selama tahun 2010-2013, coba lihat timeline kita. Apa yang kita lakukan? Dan sekarang, menjelang pemilu, mendadak semua jadi paling cinta Indonesia. Paling memikirkan bagaimana nasib bangsa kalau kubu yang menang bukanlah kubu yang kita dukung.
Kembali lagi ke judul saya. Nasionalisme musiman.
Rasanya miris aja, kalau pendukung salah satu kubu sudah mulai berapi-api dan menjelek-jelekkan kubu yang lain. Saling mengorek borok lawan, walaupun saya tidak yakin itu bisa disebut lawan. Bukankah keduanya, setidaknya menurut visi misi mereka, sama-sama berniat memperbaiki Indonesia?Terlepas dari apakah visi misi dan semua kata-kata yang keluar dari mulut mereka adalah jujur atau hanya pencitraan belaka, karena hanya mereka dan Tuhan yang tahu.
Ah, pencitraan. Kata yang dulu sama sekali tidak saya ketahui artinya, tapi sekarang selalu terdengar di mana-mana.
Presiden yang tertegun karena ditinggal pergi oleh menterinya sewaktu dia baru saja pulang dari luar negeri, kita tuduh cuma cari simpati. Si A turun langsung ke lapangan dan berinteraksi dengan rakyat, kita langsung panas dan bilang itu pencitraan. Si B ngomong berapi-api dan memberikan janjinya pada rakyat, kita tepis mentah-mentah karena kita yakin itu cuma janji manis di muka.
Wah, sombong sekali saya, menghakimi masyarakat seolah saya paling benar.
Apakah saya termasuk di antara manusia semacam itu? Saya akui, ya. Setidaknya sesekali.
Pada pemilu lalu, saya adalah satu dari masyarakat yang memilih SBY sebagai presiden.
Apakah saya menyesal sudah menggunakan suara saya pada pemilu lalu untuk pak SBY? well, daripada menyesal, mungkin lebih tepat dikatakan terkadang saya berandai-andai, bagaimana kira-kira Indonesia sekarang kalau saja waktu itu bukan Pak SBY yang menang.
Apakah saya menghujat kinerja pak SBY? Yah, terkadang saya suka gemas sendiri kalau respon Pak SBY yang emosional dalam menanggapi sesuatu seringkali mandeg pada tahap 'prihatin'. Saya suka miris pada ibu negara yang entah kenapa begitu berapi-api merespon komentar yang ditinggalkan orang-orang di instagramnya, walaupun kalau mau dilihat lebih jauh, tentu saja itu hak beliau, karena akun itu kan akun pribadinya.
Ah, saya melantur.
Mungkin kita apatis. Mungkin kita capek dengan semua angin surga yang dijanjikan pemerintah. Mungkin kita lelah menunggu orang yang benar-benar tulus ingin memperbaiki Indonesia. Mungkin, sikap kritis kita itu adalah bentuk nasionalisme kita, dan mungkin, sebenarnya bukan musiman juga, hanya saja selama ini memang dirasa lebih baik disimpan sendiri saja.
Jadi apa intinya sih tulisan ini?
Mungkin tidak ada inti apa-apa. Saya cuma capek saja melihat komentar saling menjatuhkan di setiap kolom tanggapan artikel seputar pemilu, yang terkadang terasa seperti anak SMP yang sedang tawuran via dunia maya. Dan mungkin, saya cuma takut, kalau fanatisme berlebihan ini malah akan membuat orang lain jadi apatis, dan memutuskan bahwa mungkin yang terbaik adalah tidak memilih siapapun.
Terlalu banyak kemungkinan dalam tulisan saya. Tapi bukankah hidup itu memang penuh kemungkinan?
*kemudian melipir*

Thursday, January 26, 2012

Aku mau jadi bonsai!



*udah lama ga nulis beginian, jadi maaf ya kalo bahasanya rada ga asik :)

Kata-kata ini mendadak muncul di benak gue waktu lagi nonton salah satu flash illustration dari hasil ngebongkar folder flash video di harddisk. Flash illustration itu ceritanya tentang anak yang nyiramin tanemannya, terus waktu dia ketiduran muncul akar dan semak yang ngelilit tanemannya sampe hampir mati dan dia harus susah payah motongin itu akar dan semak. Untuk temen-temen yang penasaran bisa coba ke www.donghaeng.net

So. “aku mau jadi bonsai!”
Kenapa bonsai? Semua pasti bingung dengan judul itu. (atau malah ga ada yang bingung? Atau jangan-jangan malah gue sendiri yang bingung? Apa sih? Apa dong?)
Temen-temen pasti tahu tentang bonsai, kan? Si tanaman kerdil yang harganya bisa sampe jutaan itu?
“iya, tau! Nah, terus kenapa mau jadi bonsai?” pasti pada banyak yang mikir gitu. (sok tau banget gue, hahaha…)
Sebelum gue mulai coba jelasin kenapa gue mau jadi bonsai, mungkin gue bisa cerita dulu sedikit tentang cara pembuatan bonsai.

Bonsai itu asalnya dari Cina, jadi dulu itu orang Cina mengenal seni miniaturisasi dari pemandangan alam, yaitu dengan mengkerdilkan pohon ke dalam pot dangkal. Supaya bonsai kita tetep cakep, harus rajin-rajin disiram, dipangkas, dikawatin, terus dipotong akar dan rantingnya. Kenapa? Ya karena kalo ga dipotong terus akarnya nembus pot dan nancep di tanah, bisa-bisa gagal dong bonsainya. (oke, gue ga sepaham ini soal bonsai. Info ini hasil gugling dan baca dari Wikipedia hehehe)
Sebuah bonsai ga mungkin bisa tetap terlihat sebagai miniatur alam yang indah kalau akarnya dibiarkan keluar dari pot dan kembali masuk ke tanah, kalau ranting-rantingnya ga dipotong dan dibiarkan tumbuh bebas ke mana-mana. Mungkin kalau dia bisa ngomong, dia bakal menjerit-jerit protes setiap kali akar dan rantingnya dipotong, setiap kali dia dipaksa untuk tetap berada di dalam wadah sementara dia ngelihat pohon-pohon lain tumbuh bebas. Dan menurut yang gue baca, seniman bonsai percaya tanaman itu punya jiwa, jadi gue cukup yakin setiap mereka melakukan kegiatan itu (memotong akar, memotong ranting, memberi kawat, dan semacamnya) mereka hampir bisa ngebayangin si bonsai yang menjerit-jerit. Tapi apa jadinya kalau mereka berhenti bekerja karena jeritan si bonsai? Apa jadinya kalau mereka males motongin itu akar-akar dan ranting-ranting?

Bisa bayangin ga, apa yang akan terjadi kalau taneman bonsai nggak lagi kerdil dan tumbuh di sebuah pot dangkal, melainkan malah jadi serupa dengan pohon-pohon yang lain?
Betul. Dia ga akan jadi spesial lagi. dia ga akan jadi taneman mahal bernilai jutaan yang unik dan beda dari taneman lain. dia ga akan lagi disebut-sebut sebagai “karya seni”. Buat apa orang ngabisin waktu dan uang untuk si bonsai kalau toh dia sama aja dengan pohon-pohon lainnya?

Nah, terus? Kenapa pengen jadi bonsai? Emangnya mau, dipotong-potong, dikawatin, dan segala macem itu?

Bukan, bukan. Bonsai di dalem pot itu gue umpamain sebagai diri sendiri. Sedangkan tanah bisa kita umpamain sebagai dunia. Dan sang Seniman, yah kalian ngerti dong siapa satu-satunya Seniman paling hebat sejak dari jaman dinosaurus belum ada sampe sekarang. Oke, jadi mungkin temen-temen udah bisa nebak kira-kira mau dibawa hubungan kita, eh analogi ini maksudnya.

Yup. Mungkin temen-temen udah sering denger ayat ini: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” (Rm 12: 2a) dan gue cukup yakin, banyak di antara temen-temen yang mungkin jauh lebih pinter dari gue soal mengartikan sebuah ayat, jadi gue ga mau sok menggurui. Kenapa? Ya tentu saja karena gue bukan guru. *apa sih*
Bukan, bukan. Kenapa gue ga menjabarkan lebih jauh adalah karena maksud gue di sini bukan mau menceramahi siapapun, melainkan cuma pengen share tentang cara membuat bonsai…eh salah, tentang kenapa saya pengen jadi bonsai.

Akhir kata *halah* adios amigos! :)

-mayol-

Monday, September 5, 2011

Kalau Aku Mati Besok

(ini tulisan lama, ketemu waktu lagi ngubek2 notes facebook. :) 

jalanan.
kerumunan manusia.
hiruk-pikuk kota.
pernahkah kau berusaha memperhatikannya?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

udara yang kau hirup.
angin yang berhembus.
rindang pepohonan.
pernahkah kau berhenti sejenak untuk merasakannya?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

sayup-sayup kicauan burung.
gemerisik dedaunan.
suara air yang mengalir.
pernahkah kau menyisihkan waktu untuk mendengarkannya?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

matahari yang bersinar–terkadang terlalu–cerah.
hujan yang turun dengan–terkadang terlalu–deras.
langit malam.
pernahkah kau menyempatkan diri untuk mensyukurinya?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

keluarga.
teman-teman.
orang terdekat.
pernahkah kau mengucapkan terima kasih atas hadirnya mereka dalam hidupmu?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

tapi kalau kelak aku tidak akan melihat mereka lagi,
kalau besok keberadaanku lenyap,
kalau aku hanya punya kurang dari 24 jam sebelum meninggalkan semuanya,
apa mungkin aku akan terus mengabaikan semuanya?

Wednesday, March 23, 2011

Saya dan Para Idola :D

mungkin saya adalah salah satu orang yang paling cepat berganti idola di dunia ini (yah atau seenggaknya di Indonesia raya tercinta ini deh :)
bahkan seorang teman sering bilang "kita lihat aja kali ini bakal bertahan berapa lama" setiap kali saya cerita tentang idola yang sedang saya kagumi. LOL
(saya masih tetep setia sama akang Josh Groban, tentu saja, hahahaha)

maklum, sebagai penderita sindrom "lemah terhadap pria tampan berpakaian rapi bertingkah bak superhero yang teramat-sangat gentleman dalam film drama" tingkat akut, idolaku selalu berganti-ganti terus dan terus dan terus dan terus dan terus (hahaha -___-) setiap kali ada film drama baru. dua tahun yang lalu, untuk pertama kalinya saya bukan tergila-gila pada aktor ataupun penyanyi cakep bersuara emas berhati malaikat, tapi pada penyiar *yang cakep juga* televisi swasta.
*pertanyaannya; apakah posting ini akan membahas tentang dia? ooo, tentu tidak... xD

tapi ya itu dia, ternyata itu juga salah satu efek dari sindrom yang saya derita. begitu film-film drama yang baru bermunculan, pesona si abang ganteng penyiar berita itupun hilang.. eh bukan hilang juga sih, tetep cakep dianya, tetep konyol dan tetep mempesona juga, tapi saya aja yang enggak lagi mati-matian bangun pagi untuk nonton acara yang dia bawa, enggak lagi selalu mereply atau me-retweet twitnya, dan tidak lagi getol cari info tentang dia, hahahaha...
jadi, seperti apa sebenarnya tipikal idola yang saya gila-gilai? *gila-gilai?? bahasa apaan ini???*
tidak ada stereotype tertentu, baik umur, kewarganegaraan, apakah dia berondong atau duda, atau semacamnya. satu-satunya yang membuat saya tergila-gila pada mereka awalnya ya karena tampilan mereka yang bak ksatria berkuda putih itu, dan kecintaannya pada Tuhan tentu saja, karena saya cukup kolot tentang siapa yang saya kagumi. :)

saya pernah ngefans sama Jude Law, tapi lalu ilfil dengan berita-berita tentang dia. *ecieehhh beritaaaa XD*
saya juga pernah jatuh cinta berat dengan Matthew MacFadyen waktu baru selesai nonton Pride and Prejudice (2005).
pernah juga sampe getol segetol-getolnya nyari info tentang Richard Armitage setelah saya ternganga menonton 4 episode North and South (2004).
tahun lalu saya bahkan sampai bilang "saya harus ke korea!" setelah senyam-senyum dan doki-doki menonton akting bang Chun Jung Myung di Cinderella's Sister.
Richard Gere, Hugh Grant, Song Seung Heon, James Marsden, Bae Yong Joon, Gong Yoo, Vic Chou, Oguri Shun, Naohito Fujiki, adalah sedikit dari banyak nama yang sempat saya igau-igaukan. *igaukan?? ada ya bahasa begitu? hahahaha*
bahkan saya pernah demen sama Grandpa Christoper Plummer setelah nonton The Sound of Music (1965)!
(haha, i know, i know, i'm THAT WEIRD, i know)
tapi ya itu tadi, semuanya pasti berlalu seiring dengan munculnya drama baru. *jjjjiiiiaaaahahahah!*

dan sekarang, siapa yang sedang saya taksir??
JRENG JRENG JRENG...


















tak lain dan tak bukan adalah bang Choi Si Won yang super-duper ganteng-menawan-hormat pada orang tua-baik hati-gemar menabung-ramah lingkungan-cinta tanah air itu!
iya, yang sekarang nampang di header dan background blog tercinta ini!
hahuhahuha...
kenapa saya bisa naksir? saya bahkan gak suka sama Super Junior! dan saya pernah mengejek teman saya yang demen sama si bang Si Won ini, mengira si teman naksir dia karena SuJu.
kenapa? mungkin saya terkena karma karena mengolok-olok si teman... hahaha.
enggak kok, enggak.
seperti yang udah saya bilang tadi, saya cukup kolot tentang faktor agama untuk orang yang saya idolakan.
Choi Si Won memang cakep, anak orang kaya, lembut, senyumannya punya efek maut, dan suaranya ga ngebosenin. tapi jantung saya langsung *GEDEBUK GEDEBAM* begitu tahu bahwa bang Choi Si Won adalah ANAK TUHAN.
dan yang paling bikin saya salut-jatuh cinta-bangga-terharu-terkagum-ternganga adalah dia benar-benar anak Tuhan, bukan cuma sekedar seorang yang labelnya seagama dengan saya.
dia bahkan dengan bangga selalu mengupdate kegiatan pelayanannya, yang tentu saja bikin jantung saya yang tadinya udah kaya marching band, makin kencang 10x lipat detakannya. *eyakk eyakkk lebay!*

pertanyaannya, seperti yang dikatakan teman saya *lagi* sewaktu saya bilang saya naksir Si Won DAN HARUS KE KOREA UNTUK MELAMARNYA DARI MR. CHOI senior adalah: kira-kira berapa lama si SiWon ini bertahan sebelum ada idola baru lagi?
kita lihat saja berapa lama, walaupun saya gak yakin bakal ada yang bisa menggeser si cakep ini dari hati saya untuk sementara waktu.
*ihiy!*
apakah SiWon akan terlupakan dalam jangka waktu kurang dari sebulan, atau dia bahkan berhasil menyamakan kedudukan (atau bahkan menendang keluar) Josh Groban dari hati saya?
kita tunggu saja!
*apasih apadeh dongdong hahahaha*

me: tadaima! | blog: ...okaeri! -___-

tadaima - okaeri adalah salam yang diucapkan orang jepang ketika pulang kerumah (tadaima) dan ketika menyambut penghuni rumah yang sudah pulang (okaeri). kenapa itu jadi judul postingan ini? simply karena aku sedang merasa jadi si 'anak hilang' yang baru saja menemukan jalan pulang ke 'rumah'. *SUPER HALAH!*
bahkan udah ga ingat ntah udah berapa lama blog ini ga ditulisi lagi. kalo ibarat rumah, mungkin lantainya udah ketutup debu setebal 10cm dan dihias sarang laba-laba. *bersih-bersih pojokan blog*
kehilangan semangat? nggak juga sih, agak gak tega dan gak mau bilang kalo aku kehilangan semangat. aku masih cinta tulis-menulis kok :)
tidak ada waktu? itu juga rasanya kurang tepat. nggak sesibuk itu juga deh.
sedang tidak mood? mungkin, walaupun rasanya kok ya agak kurang ajar, aku nggak mood mencoret-coret blogku sendiri. hahaha... *apa sih??*
intinya, aku pulang, blog! *peluk-peluk* hahahaha...
semoga aku akan sering menulisi kamu ya sayang... *kecup basah* XD

Saturday, September 4, 2010

aku ini segi tiga.

aku ini segi tiga.
pada awalnya, kau akan merasa aku terlalu pendiam.
kemudian kau mendapati bahwa sebenarnya aku tidak.
dan akhirnya kau takkan bisa memutuskan bagaimana aku sebenarnya.

aku ini segi tiga.
terjepit antara dua warna.
bukan, bukan sepolos putih.
dan tidak, tidak sekelam hitam.
tapi abu-abu.
ya, aku abu-abu.

aku ini segi tiga.
jangan sentuh sisi merahku, kalau kau tidak ingin merasakan amarahku.
dan jauhi sisi biruku, atau kau akan melihat betapa kelabunya aku.
tapi jamahlah unguku,
di sana aku akan menyelimutimu hingga kau lupa seperti apa rasanya menggigil beku.

aku ini segi tiga.
berubah-ubah bak diagram warna.
tidak peduli segemerlap apa, pada intinya aku adalah titik hitam sederhana.

aku ini segi tiga.
jangan mengharapkan keramahan dariku, seperti yang ditawarkan si lingkaran.
atau menginginkan ketegasan, seperti wibawa sang persegi empat.
sentuh aku, maka kau akan tertusuk oleh sudut-sudutku.
dan berdarah. lalu mati. 

aku ini segi tiga,
aku sudah memperingatkanmu.
tapi kalau kau tak keberatan terluka,
pada akhirnya kau akan sampai di titik pusatku.
dan tak ada lagi sudut tajam yang akan melukaimu.

=)