aku ini segi tiga.
pada awalnya, kau akan merasa aku terlalu pendiam.
kemudian kau mendapati bahwa sebenarnya aku tidak.
dan akhirnya kau takkan bisa memutuskan bagaimana aku sebenarnya.
aku ini segi tiga.
terjepit antara dua warna.
bukan, bukan sepolos putih.
dan tidak, tidak sekelam hitam.
tapi abu-abu.
ya, aku abu-abu.
aku ini segi tiga.
jangan sentuh sisi merahku, kalau kau tidak ingin merasakan amarahku.
dan jauhi sisi biruku, atau kau akan melihat betapa kelabunya aku.
tapi jamahlah unguku,
di sana aku akan menyelimutimu hingga kau lupa seperti apa rasanya menggigil beku.
aku ini segi tiga.
berubah-ubah bak diagram warna.
tidak peduli segemerlap apa, pada intinya aku adalah titik hitam sederhana.
aku ini segi tiga.
jangan mengharapkan keramahan dariku, seperti yang ditawarkan si lingkaran.
atau menginginkan ketegasan, seperti wibawa sang persegi empat.
sentuh aku, maka kau akan tertusuk oleh sudut-sudutku.
dan berdarah. lalu mati.
aku ini segi tiga,
aku sudah memperingatkanmu.
tapi kalau kau tak keberatan terluka,
pada akhirnya kau akan sampai di titik pusatku.
dan tak ada lagi sudut tajam yang akan melukaimu.
=)
Saturday, September 4, 2010
Analogi Piano dan Tuts Hitam Putih
hidup bak sebuah piano.
kau, aku, kita, hanyalah tuts-tuts kecilnya.
biarkan sang Pianis memainkan kita dengan kepiawaian yang dimilikiNya.
tak jarang akan terdengar beberapa nada minor ketika kita saling bertabrakan, tapi percayalah kalau di akhirnya akan ada karya indah yang dihasilkan di hidup kita.
(kalimat ini melintas waktu dengerin Clair de Lune-nya Claude deBussy)
kau, aku, kita, hanyalah tuts-tuts kecilnya.
biarkan sang Pianis memainkan kita dengan kepiawaian yang dimilikiNya.
tak jarang akan terdengar beberapa nada minor ketika kita saling bertabrakan, tapi percayalah kalau di akhirnya akan ada karya indah yang dihasilkan di hidup kita.
(kalimat ini melintas waktu dengerin Clair de Lune-nya Claude deBussy)
Subscribe to:
Comments (Atom)