Thursday, January 26, 2012

Aku mau jadi bonsai!



*udah lama ga nulis beginian, jadi maaf ya kalo bahasanya rada ga asik :)

Kata-kata ini mendadak muncul di benak gue waktu lagi nonton salah satu flash illustration dari hasil ngebongkar folder flash video di harddisk. Flash illustration itu ceritanya tentang anak yang nyiramin tanemannya, terus waktu dia ketiduran muncul akar dan semak yang ngelilit tanemannya sampe hampir mati dan dia harus susah payah motongin itu akar dan semak. Untuk temen-temen yang penasaran bisa coba ke www.donghaeng.net

So. “aku mau jadi bonsai!”
Kenapa bonsai? Semua pasti bingung dengan judul itu. (atau malah ga ada yang bingung? Atau jangan-jangan malah gue sendiri yang bingung? Apa sih? Apa dong?)
Temen-temen pasti tahu tentang bonsai, kan? Si tanaman kerdil yang harganya bisa sampe jutaan itu?
“iya, tau! Nah, terus kenapa mau jadi bonsai?” pasti pada banyak yang mikir gitu. (sok tau banget gue, hahaha…)
Sebelum gue mulai coba jelasin kenapa gue mau jadi bonsai, mungkin gue bisa cerita dulu sedikit tentang cara pembuatan bonsai.

Bonsai itu asalnya dari Cina, jadi dulu itu orang Cina mengenal seni miniaturisasi dari pemandangan alam, yaitu dengan mengkerdilkan pohon ke dalam pot dangkal. Supaya bonsai kita tetep cakep, harus rajin-rajin disiram, dipangkas, dikawatin, terus dipotong akar dan rantingnya. Kenapa? Ya karena kalo ga dipotong terus akarnya nembus pot dan nancep di tanah, bisa-bisa gagal dong bonsainya. (oke, gue ga sepaham ini soal bonsai. Info ini hasil gugling dan baca dari Wikipedia hehehe)
Sebuah bonsai ga mungkin bisa tetap terlihat sebagai miniatur alam yang indah kalau akarnya dibiarkan keluar dari pot dan kembali masuk ke tanah, kalau ranting-rantingnya ga dipotong dan dibiarkan tumbuh bebas ke mana-mana. Mungkin kalau dia bisa ngomong, dia bakal menjerit-jerit protes setiap kali akar dan rantingnya dipotong, setiap kali dia dipaksa untuk tetap berada di dalam wadah sementara dia ngelihat pohon-pohon lain tumbuh bebas. Dan menurut yang gue baca, seniman bonsai percaya tanaman itu punya jiwa, jadi gue cukup yakin setiap mereka melakukan kegiatan itu (memotong akar, memotong ranting, memberi kawat, dan semacamnya) mereka hampir bisa ngebayangin si bonsai yang menjerit-jerit. Tapi apa jadinya kalau mereka berhenti bekerja karena jeritan si bonsai? Apa jadinya kalau mereka males motongin itu akar-akar dan ranting-ranting?

Bisa bayangin ga, apa yang akan terjadi kalau taneman bonsai nggak lagi kerdil dan tumbuh di sebuah pot dangkal, melainkan malah jadi serupa dengan pohon-pohon yang lain?
Betul. Dia ga akan jadi spesial lagi. dia ga akan jadi taneman mahal bernilai jutaan yang unik dan beda dari taneman lain. dia ga akan lagi disebut-sebut sebagai “karya seni”. Buat apa orang ngabisin waktu dan uang untuk si bonsai kalau toh dia sama aja dengan pohon-pohon lainnya?

Nah, terus? Kenapa pengen jadi bonsai? Emangnya mau, dipotong-potong, dikawatin, dan segala macem itu?

Bukan, bukan. Bonsai di dalem pot itu gue umpamain sebagai diri sendiri. Sedangkan tanah bisa kita umpamain sebagai dunia. Dan sang Seniman, yah kalian ngerti dong siapa satu-satunya Seniman paling hebat sejak dari jaman dinosaurus belum ada sampe sekarang. Oke, jadi mungkin temen-temen udah bisa nebak kira-kira mau dibawa hubungan kita, eh analogi ini maksudnya.

Yup. Mungkin temen-temen udah sering denger ayat ini: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” (Rm 12: 2a) dan gue cukup yakin, banyak di antara temen-temen yang mungkin jauh lebih pinter dari gue soal mengartikan sebuah ayat, jadi gue ga mau sok menggurui. Kenapa? Ya tentu saja karena gue bukan guru. *apa sih*
Bukan, bukan. Kenapa gue ga menjabarkan lebih jauh adalah karena maksud gue di sini bukan mau menceramahi siapapun, melainkan cuma pengen share tentang cara membuat bonsai…eh salah, tentang kenapa saya pengen jadi bonsai.

Akhir kata *halah* adios amigos! :)

-mayol-

Monday, September 5, 2011

Kalau Aku Mati Besok

(ini tulisan lama, ketemu waktu lagi ngubek2 notes facebook. :) 

jalanan.
kerumunan manusia.
hiruk-pikuk kota.
pernahkah kau berusaha memperhatikannya?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

udara yang kau hirup.
angin yang berhembus.
rindang pepohonan.
pernahkah kau berhenti sejenak untuk merasakannya?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

sayup-sayup kicauan burung.
gemerisik dedaunan.
suara air yang mengalir.
pernahkah kau menyisihkan waktu untuk mendengarkannya?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

matahari yang bersinar–terkadang terlalu–cerah.
hujan yang turun dengan–terkadang terlalu–deras.
langit malam.
pernahkah kau menyempatkan diri untuk mensyukurinya?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

keluarga.
teman-teman.
orang terdekat.
pernahkah kau mengucapkan terima kasih atas hadirnya mereka dalam hidupmu?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

tapi kalau kelak aku tidak akan melihat mereka lagi,
kalau besok keberadaanku lenyap,
kalau aku hanya punya kurang dari 24 jam sebelum meninggalkan semuanya,
apa mungkin aku akan terus mengabaikan semuanya?

Wednesday, March 23, 2011

Saya dan Para Idola :D

mungkin saya adalah salah satu orang yang paling cepat berganti idola di dunia ini (yah atau seenggaknya di Indonesia raya tercinta ini deh :)
bahkan seorang teman sering bilang "kita lihat aja kali ini bakal bertahan berapa lama" setiap kali saya cerita tentang idola yang sedang saya kagumi. LOL
(saya masih tetep setia sama akang Josh Groban, tentu saja, hahahaha)

maklum, sebagai penderita sindrom "lemah terhadap pria tampan berpakaian rapi bertingkah bak superhero yang teramat-sangat gentleman dalam film drama" tingkat akut, idolaku selalu berganti-ganti terus dan terus dan terus dan terus dan terus (hahaha -___-) setiap kali ada film drama baru. dua tahun yang lalu, untuk pertama kalinya saya bukan tergila-gila pada aktor ataupun penyanyi cakep bersuara emas berhati malaikat, tapi pada penyiar *yang cakep juga* televisi swasta.
*pertanyaannya; apakah posting ini akan membahas tentang dia? ooo, tentu tidak... xD

tapi ya itu dia, ternyata itu juga salah satu efek dari sindrom yang saya derita. begitu film-film drama yang baru bermunculan, pesona si abang ganteng penyiar berita itupun hilang.. eh bukan hilang juga sih, tetep cakep dianya, tetep konyol dan tetep mempesona juga, tapi saya aja yang enggak lagi mati-matian bangun pagi untuk nonton acara yang dia bawa, enggak lagi selalu mereply atau me-retweet twitnya, dan tidak lagi getol cari info tentang dia, hahahaha...
jadi, seperti apa sebenarnya tipikal idola yang saya gila-gilai? *gila-gilai?? bahasa apaan ini???*
tidak ada stereotype tertentu, baik umur, kewarganegaraan, apakah dia berondong atau duda, atau semacamnya. satu-satunya yang membuat saya tergila-gila pada mereka awalnya ya karena tampilan mereka yang bak ksatria berkuda putih itu, dan kecintaannya pada Tuhan tentu saja, karena saya cukup kolot tentang siapa yang saya kagumi. :)

saya pernah ngefans sama Jude Law, tapi lalu ilfil dengan berita-berita tentang dia. *ecieehhh beritaaaa XD*
saya juga pernah jatuh cinta berat dengan Matthew MacFadyen waktu baru selesai nonton Pride and Prejudice (2005).
pernah juga sampe getol segetol-getolnya nyari info tentang Richard Armitage setelah saya ternganga menonton 4 episode North and South (2004).
tahun lalu saya bahkan sampai bilang "saya harus ke korea!" setelah senyam-senyum dan doki-doki menonton akting bang Chun Jung Myung di Cinderella's Sister.
Richard Gere, Hugh Grant, Song Seung Heon, James Marsden, Bae Yong Joon, Gong Yoo, Vic Chou, Oguri Shun, Naohito Fujiki, adalah sedikit dari banyak nama yang sempat saya igau-igaukan. *igaukan?? ada ya bahasa begitu? hahahaha*
bahkan saya pernah demen sama Grandpa Christoper Plummer setelah nonton The Sound of Music (1965)!
(haha, i know, i know, i'm THAT WEIRD, i know)
tapi ya itu tadi, semuanya pasti berlalu seiring dengan munculnya drama baru. *jjjjiiiiaaaahahahah!*

dan sekarang, siapa yang sedang saya taksir??
JRENG JRENG JRENG...


















tak lain dan tak bukan adalah bang Choi Si Won yang super-duper ganteng-menawan-hormat pada orang tua-baik hati-gemar menabung-ramah lingkungan-cinta tanah air itu!
iya, yang sekarang nampang di header dan background blog tercinta ini!
hahuhahuha...
kenapa saya bisa naksir? saya bahkan gak suka sama Super Junior! dan saya pernah mengejek teman saya yang demen sama si bang Si Won ini, mengira si teman naksir dia karena SuJu.
kenapa? mungkin saya terkena karma karena mengolok-olok si teman... hahaha.
enggak kok, enggak.
seperti yang udah saya bilang tadi, saya cukup kolot tentang faktor agama untuk orang yang saya idolakan.
Choi Si Won memang cakep, anak orang kaya, lembut, senyumannya punya efek maut, dan suaranya ga ngebosenin. tapi jantung saya langsung *GEDEBUK GEDEBAM* begitu tahu bahwa bang Choi Si Won adalah ANAK TUHAN.
dan yang paling bikin saya salut-jatuh cinta-bangga-terharu-terkagum-ternganga adalah dia benar-benar anak Tuhan, bukan cuma sekedar seorang yang labelnya seagama dengan saya.
dia bahkan dengan bangga selalu mengupdate kegiatan pelayanannya, yang tentu saja bikin jantung saya yang tadinya udah kaya marching band, makin kencang 10x lipat detakannya. *eyakk eyakkk lebay!*

pertanyaannya, seperti yang dikatakan teman saya *lagi* sewaktu saya bilang saya naksir Si Won DAN HARUS KE KOREA UNTUK MELAMARNYA DARI MR. CHOI senior adalah: kira-kira berapa lama si SiWon ini bertahan sebelum ada idola baru lagi?
kita lihat saja berapa lama, walaupun saya gak yakin bakal ada yang bisa menggeser si cakep ini dari hati saya untuk sementara waktu.
*ihiy!*
apakah SiWon akan terlupakan dalam jangka waktu kurang dari sebulan, atau dia bahkan berhasil menyamakan kedudukan (atau bahkan menendang keluar) Josh Groban dari hati saya?
kita tunggu saja!
*apasih apadeh dongdong hahahaha*

me: tadaima! | blog: ...okaeri! -___-

tadaima - okaeri adalah salam yang diucapkan orang jepang ketika pulang kerumah (tadaima) dan ketika menyambut penghuni rumah yang sudah pulang (okaeri). kenapa itu jadi judul postingan ini? simply karena aku sedang merasa jadi si 'anak hilang' yang baru saja menemukan jalan pulang ke 'rumah'. *SUPER HALAH!*
bahkan udah ga ingat ntah udah berapa lama blog ini ga ditulisi lagi. kalo ibarat rumah, mungkin lantainya udah ketutup debu setebal 10cm dan dihias sarang laba-laba. *bersih-bersih pojokan blog*
kehilangan semangat? nggak juga sih, agak gak tega dan gak mau bilang kalo aku kehilangan semangat. aku masih cinta tulis-menulis kok :)
tidak ada waktu? itu juga rasanya kurang tepat. nggak sesibuk itu juga deh.
sedang tidak mood? mungkin, walaupun rasanya kok ya agak kurang ajar, aku nggak mood mencoret-coret blogku sendiri. hahaha... *apa sih??*
intinya, aku pulang, blog! *peluk-peluk* hahahaha...
semoga aku akan sering menulisi kamu ya sayang... *kecup basah* XD

Saturday, September 4, 2010

aku ini segi tiga.

aku ini segi tiga.
pada awalnya, kau akan merasa aku terlalu pendiam.
kemudian kau mendapati bahwa sebenarnya aku tidak.
dan akhirnya kau takkan bisa memutuskan bagaimana aku sebenarnya.

aku ini segi tiga.
terjepit antara dua warna.
bukan, bukan sepolos putih.
dan tidak, tidak sekelam hitam.
tapi abu-abu.
ya, aku abu-abu.

aku ini segi tiga.
jangan sentuh sisi merahku, kalau kau tidak ingin merasakan amarahku.
dan jauhi sisi biruku, atau kau akan melihat betapa kelabunya aku.
tapi jamahlah unguku,
di sana aku akan menyelimutimu hingga kau lupa seperti apa rasanya menggigil beku.

aku ini segi tiga.
berubah-ubah bak diagram warna.
tidak peduli segemerlap apa, pada intinya aku adalah titik hitam sederhana.

aku ini segi tiga.
jangan mengharapkan keramahan dariku, seperti yang ditawarkan si lingkaran.
atau menginginkan ketegasan, seperti wibawa sang persegi empat.
sentuh aku, maka kau akan tertusuk oleh sudut-sudutku.
dan berdarah. lalu mati. 

aku ini segi tiga,
aku sudah memperingatkanmu.
tapi kalau kau tak keberatan terluka,
pada akhirnya kau akan sampai di titik pusatku.
dan tak ada lagi sudut tajam yang akan melukaimu.

=)

Analogi Piano dan Tuts Hitam Putih

hidup bak sebuah piano. 
kau, aku, kita, hanyalah tuts-tuts kecilnya. 
biarkan sang Pianis memainkan kita dengan kepiawaian yang dimilikiNya. 
tak jarang akan terdengar beberapa nada minor ketika kita saling bertabrakan, tapi percayalah kalau di akhirnya akan ada karya indah yang dihasilkan di hidup kita. 

(kalimat ini melintas waktu dengerin Clair de Lune-nya Claude deBussy)

Sunday, February 14, 2010

cuma sedikit sharing tentang Valentine...

kemarin, aku mendapat satu-dua buah pesan singkat yang mengucapkan selamat hari Valentine.
yang pertama membuatku terharu, tapi yang kedua tidak membuatku merasakan apa-apa.
ucapan selamat hari Valentine yang tanpa alasan entah kenapa justru membuatku mual.
*maaf, kalau mungkin aku terdengar sinis dan bahkan sarkastis*
dan maaf juga untuk yang mungkin merasa tersinggung.
entah sejak kapan, segala kehebohan orang-orang setiap kali menyambut Valentine mulai membuatku muak.
bukan, bukannya aku membenci cinta. St. Valentine justru adalah salah satu orang yang sangat kukagumi karena keberaniannya berkorban demi satu kata yang disebut 'cinta'.
dan walaupun aku tidak berani menyebut diriku sendiri sebagai salah seorang pengagum cinta, aku juga tidak lantas membenci kata-kata itu.
selebrasi yang berlebihan dan terkesan murahan dari orang-oranglah yang membuatku muak.
cinta itu bukanlah sesuatu yang harus dideklarasikan seheboh itu.
bukankah cinta adalah hal yang harus diselebrasikan setiap hari?
bukannya cinta itu seharusnya konstan, bukan musiman?
bukankah cinta adalah sesuatu yang harusnya dibuktikan lewat tindakan dan kesungguhan dan bukannya lewat hadiah dan kata-kata?
sadarkah, hai para Pecinta Muda, segala kehebohan tradisi Valentine ini cuma salah satu bentuk pembodohan dari para pebisnis?
dengan kedok hari penuh cinta, kita dimanipulasi untuk memberi cokelat, bunga, kado, atau apapunlah itu namanya.
tidak mengucapkan selamat hari Valentine membuat kita seolah mendapat cap sebagai orang yang tidak punya cinta.
tidak punya pasangan untuk merayakan Valentine membuat kita merasa gelisah dan malu.
apakah hal-hal itu memang penting?
kalian yang merayakan 14 Februari dengan begitu heboh, apakah di hari lain hati kalian memang senantiasa penuh cinta?
atau hanya di satu hari itu kalian mengistimewakan 'cinta' yang kalian agung-agungkan itu?
buatku pribadi, hal-hal sedangkal itu tidak bisa dijadikan tolak ukur dalam menilai perasaan cinta yang kita miliki.
apakah kalau aku lebih memilih mengucapkan "Selamat Hari Minggu" daripada "Selamat Hari Valentine" lantas membuatku menjadi orang yang tidak berperasaan?
tidak, aku rasa.
*tapi sekali lagi, itu pendapatku pribadi, jadi maaf kalau ada yang merasa tersinggung*
spread the love everyday everywhere...
=)

xoxo,
-y-


(gambar dari http://photobucket.com)