Thursday, November 12, 2009

dewasa

apa sebenarnya defenisi dewasa itu?
hal ini menggelitik pikiranku malam--atau lebih tepatnya subuh--ini.
dulu, ketika kecil,
ketika kita dianggap bersikap kekanak-kanakan, kita diminta untuk 'lebih dewasa'.
tapi sekarang ketika kita menganggap diri kita sudah cukup dewasa untuk memilih,
namun ternyata kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak orangtua, mereka akan menganggap kita "belum cukup dewasa" untuk memilih apa yang terbaik untuk kita.
kapan tepatnya kita akan disebut dewasa?
apakah kedewasaan itu sifatnya statis?
apakah sekali kita dianggap dewasa, maka selamanya kita akan bisa dipastikan selalu mengambil keputusan yang tepat?
apa hanya karena kita orangtua, maka kita layak memutuskan segala sesuatunya untuk anak cucu kita,tanpa peduli apakah keputusan yang kita buat sesuai dengan kehendak mereka atau tidak?
atau apakah karena kita seorang anak, tidak peduli berapapun umur kita, kita akan selalu dianggap belum dewasa?

aku sama sekali nggak ingin memojokkan satu pihak tertentu, tidak.
tapi lebih kepada penasaran dan ingin tahu, bagaimana sebenarnya makna dari kata dewasa.
bagaimana defenisi kata dewasa pada posisi kita sebagai anak di mata orangtua?
apakah setiap orang, dalam proses kedewasaannya, selalu dihadapkan pada pilihan antara orang tua dan kata hati?
ketika kita memilih kata hati, kita akan dianggap sebagai anak yang tidak mematuhi mereka.
tapi kalau menuruti mereka berarti menentang kata hati, apakah itu tepat??

mengutip perkataan seseorang dari blognya, dewasa itu sifatnya relatif.
tapi sampai di mana batas kata relatif itu sendiri?
menurutnya, dewasa juga berarti menghadapi segala sesuatunya dengan tepat.
tapi tepat menurut siapa?
karena sesuai dengan sifatnya yang relatif itu, maka tepat untuk kita belum tentu tepat juga bagi orang lain.
dan ketika "orang lain" itu adalah orangtua kita sendiri, lantas bagaimana?
apa kita harus memperjuangkan apa yang kita anggap tepat?
atau mengalah dan menuruti pendapat mereka, karena itulah kewajiban utama kita sebagai anak?
karena, ya, di satu sisi kita memang makhluk individu.
kita bebas melakukan sesuatu.
tapi di sisi lain, kita adalah makhluk sosial yang tidak mungkin bisa terlepas dari hubungan dengan orang lain.
dalam hal ini, contoh paling sederhananya adalah orangtua kita sendiri.
*yah, mungkin ini yang menyebabkan kedewasaan itu menjadi sesuatu yang sifatnya relatif.

tapi, baru saja sesuatu melintas di benak saya.
menjadi dewasa berarti mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitar kita.
yang artinya keputusan yang kita ambil tidak akan merugikan siapapun, termasuk diri kita sendiri.
kalau demikian arti dari kedewasaan,
bukankah berarti dewasa itu adalah sesuatu yang mutlak, dan bukan lagi hal yang sifatnya relatif dan subjektif?
lantas bagaimana mungkin sikap dewasa itu bersifat tidak tetap?
*dan saya semakin pusing dengan kata-kata saya sendiri.

astaga, ternyata sesulit itukah untuk menjadi dewasa?

No comments:

Post a Comment