Saturday, June 21, 2014

So Long, Buddy


beberapa tahun lalu, masih ingat betul waktu abang pulang dari tahun baruan di rumah temennya. dia masuk sambil senyum-senyum, jenis senyum yang bikin siapapun yang ngelihat mukanya pasti bawaannya pengen ngegetok kepalanya. Terus dia pelan-pelan buka ritsleting ranselnya dan, tadaaa... nyembul kepala mungil warna itam dari dalam ransel.
sempat berdebat soal nama, aku usulin ngasih namanya Einstein tapi akhirnya harus puas di-outvoted sama abang dan adek yang lebih setuju dia dinamai Bagong.
Bagong. ya. anjing sekecil itu dikasih nama sedodol itu. your dog is what you name him, kalo kata orang. dan jadilah dia Bagong, anjing kecil yang ususnya kayanya sampe jari kaki sampe-sampe ga ada kenyang-kenyangnya when it comes to food.


seperti puppies pada umumnya, tingkahnya nggak jauh-jauh dari 1 kata: ngegemesin. dikasih minum susu, malah ngantuk sampe kepalanya kecemplung ke dalam mangkok. dipanggil, malah kabur ke kolong kursi. butuh waktu beberapa hari sebelum dia mulai beradaptasi. dan begitu dia beradaptasi? tingkahnya cuma bisa digambarin dengan satu kata: gila.
ya, Bagong. hobinya mencicipi semua yang ada di deket mulutnya, dari mulai kaki sofa sampe kaki manusia. sodorin jempol kaki dan dia bakal datang sambil ngibas-ngibasin ekor. kalau anjing lain datang kalau kita mendecak atau manggil namanya, Bagong cuma bakal datang kalau denger suara denting sendok dan piring kaca. karena itu berarti satu hal buat dia: waktu makan.

setelah 3,5 tahun, pagi ini tiba-tiba dapat telepon dari rumah. Mama nangis dan bilang kalau Bagong udah nggak ada. diracun, sepertinya. di belakang mama aku bisa denger suara adek, sepertinya lagi nangis.
reaksiku? bengong, awalnya. sambil mikir dalam hati kalau mungkin Mama lagi bercanda, jokes Minggu pagi, barangkali. tapi nggak mungkin, mama bukan tipe yang begitu. dan ini bukan April Mop.
jadi reaksi kedua setelah pulih dari bengong cuma satu: nangis.
kata orang, kalau kelopak mata gerak-gerak, berarti mau dapat kabar sedih. jadi mau nggak mau aku langsung mikir, "oh, mungkin ini alasan kenapa berapa hari belakangan ini kelopak mata kiri gerak-gerak."
jadi begitulah. setelah 3,5 tahun. Bagong pergi gitu aja. bahkan nggak mau nunggu sampai aku pulang ke Medan, padahal aku udah pesan tiket.
dia pergi, bukan dengan sukarela. dia dibunuh. diracun. Am I sad? undeniably. Am I angry? for sure. tapi aku juga tahu, marah nggak akan bisa balikin Bagong lagi. untuk mas/pak/mbak/siapapun yang udah ngeracun Bagong, saya cuma berdoa semoga anda sudah puas, dan bisa lebih tenang sekarang setelah anjing saya pergi. Dan semoga tidak ada anjing lain yang jadi korban anda, cukup anjing saya saja. Dan semoga anda nggak ngerasain apa yang saya dan keluarga saya rasain, heartbroken because our precious buddy has been taken away from us. semoga Tuhan memberkati anda, Sir.
dan untuk Bagong, so long, Buddy. You will always be loved and missed. Sekarang udah punya banyak temen yah di surga? jangan nakal-nakal yah, di sana.
You're not just a pet, you're part of our family. Always have been, and always will be.
I love you, Bagong :')






Nasionalisme Musiman

Judulnya mungkin tidak sedap didengar. Musiman? Memang buah?
Tapi makin mendekati pemilu, cuma ini yang selalu melintas di kepala setiap kali membaca komentar-komentar di artikel seputar Pencalonan Presiden.
Ke mana kita selama ini? Sudah bisa berbuat apa kita buat negara? Sudah mendapati temuan apa yang bisa bikin Indonesia bangga? sudah memberikan kontribusi apa, selain hujatan pada pemerintah dan kabinet yang kita nilai tidak berhasil?
Selama ini ke mana kita? selama tahun 2010-2013, coba lihat timeline kita. Apa yang kita lakukan? Dan sekarang, menjelang pemilu, mendadak semua jadi paling cinta Indonesia. Paling memikirkan bagaimana nasib bangsa kalau kubu yang menang bukanlah kubu yang kita dukung.
Kembali lagi ke judul saya. Nasionalisme musiman.
Rasanya miris aja, kalau pendukung salah satu kubu sudah mulai berapi-api dan menjelek-jelekkan kubu yang lain. Saling mengorek borok lawan, walaupun saya tidak yakin itu bisa disebut lawan. Bukankah keduanya, setidaknya menurut visi misi mereka, sama-sama berniat memperbaiki Indonesia?Terlepas dari apakah visi misi dan semua kata-kata yang keluar dari mulut mereka adalah jujur atau hanya pencitraan belaka, karena hanya mereka dan Tuhan yang tahu.
Ah, pencitraan. Kata yang dulu sama sekali tidak saya ketahui artinya, tapi sekarang selalu terdengar di mana-mana.
Presiden yang tertegun karena ditinggal pergi oleh menterinya sewaktu dia baru saja pulang dari luar negeri, kita tuduh cuma cari simpati. Si A turun langsung ke lapangan dan berinteraksi dengan rakyat, kita langsung panas dan bilang itu pencitraan. Si B ngomong berapi-api dan memberikan janjinya pada rakyat, kita tepis mentah-mentah karena kita yakin itu cuma janji manis di muka.
Wah, sombong sekali saya, menghakimi masyarakat seolah saya paling benar.
Apakah saya termasuk di antara manusia semacam itu? Saya akui, ya. Setidaknya sesekali.
Pada pemilu lalu, saya adalah satu dari masyarakat yang memilih SBY sebagai presiden.
Apakah saya menyesal sudah menggunakan suara saya pada pemilu lalu untuk pak SBY? well, daripada menyesal, mungkin lebih tepat dikatakan terkadang saya berandai-andai, bagaimana kira-kira Indonesia sekarang kalau saja waktu itu bukan Pak SBY yang menang.
Apakah saya menghujat kinerja pak SBY? Yah, terkadang saya suka gemas sendiri kalau respon Pak SBY yang emosional dalam menanggapi sesuatu seringkali mandeg pada tahap 'prihatin'. Saya suka miris pada ibu negara yang entah kenapa begitu berapi-api merespon komentar yang ditinggalkan orang-orang di instagramnya, walaupun kalau mau dilihat lebih jauh, tentu saja itu hak beliau, karena akun itu kan akun pribadinya.
Ah, saya melantur.
Mungkin kita apatis. Mungkin kita capek dengan semua angin surga yang dijanjikan pemerintah. Mungkin kita lelah menunggu orang yang benar-benar tulus ingin memperbaiki Indonesia. Mungkin, sikap kritis kita itu adalah bentuk nasionalisme kita, dan mungkin, sebenarnya bukan musiman juga, hanya saja selama ini memang dirasa lebih baik disimpan sendiri saja.
Jadi apa intinya sih tulisan ini?
Mungkin tidak ada inti apa-apa. Saya cuma capek saja melihat komentar saling menjatuhkan di setiap kolom tanggapan artikel seputar pemilu, yang terkadang terasa seperti anak SMP yang sedang tawuran via dunia maya. Dan mungkin, saya cuma takut, kalau fanatisme berlebihan ini malah akan membuat orang lain jadi apatis, dan memutuskan bahwa mungkin yang terbaik adalah tidak memilih siapapun.
Terlalu banyak kemungkinan dalam tulisan saya. Tapi bukankah hidup itu memang penuh kemungkinan?
*kemudian melipir*

Thursday, January 26, 2012

Aku mau jadi bonsai!



*udah lama ga nulis beginian, jadi maaf ya kalo bahasanya rada ga asik :)

Kata-kata ini mendadak muncul di benak gue waktu lagi nonton salah satu flash illustration dari hasil ngebongkar folder flash video di harddisk. Flash illustration itu ceritanya tentang anak yang nyiramin tanemannya, terus waktu dia ketiduran muncul akar dan semak yang ngelilit tanemannya sampe hampir mati dan dia harus susah payah motongin itu akar dan semak. Untuk temen-temen yang penasaran bisa coba ke www.donghaeng.net

So. “aku mau jadi bonsai!”
Kenapa bonsai? Semua pasti bingung dengan judul itu. (atau malah ga ada yang bingung? Atau jangan-jangan malah gue sendiri yang bingung? Apa sih? Apa dong?)
Temen-temen pasti tahu tentang bonsai, kan? Si tanaman kerdil yang harganya bisa sampe jutaan itu?
“iya, tau! Nah, terus kenapa mau jadi bonsai?” pasti pada banyak yang mikir gitu. (sok tau banget gue, hahaha…)
Sebelum gue mulai coba jelasin kenapa gue mau jadi bonsai, mungkin gue bisa cerita dulu sedikit tentang cara pembuatan bonsai.

Bonsai itu asalnya dari Cina, jadi dulu itu orang Cina mengenal seni miniaturisasi dari pemandangan alam, yaitu dengan mengkerdilkan pohon ke dalam pot dangkal. Supaya bonsai kita tetep cakep, harus rajin-rajin disiram, dipangkas, dikawatin, terus dipotong akar dan rantingnya. Kenapa? Ya karena kalo ga dipotong terus akarnya nembus pot dan nancep di tanah, bisa-bisa gagal dong bonsainya. (oke, gue ga sepaham ini soal bonsai. Info ini hasil gugling dan baca dari Wikipedia hehehe)
Sebuah bonsai ga mungkin bisa tetap terlihat sebagai miniatur alam yang indah kalau akarnya dibiarkan keluar dari pot dan kembali masuk ke tanah, kalau ranting-rantingnya ga dipotong dan dibiarkan tumbuh bebas ke mana-mana. Mungkin kalau dia bisa ngomong, dia bakal menjerit-jerit protes setiap kali akar dan rantingnya dipotong, setiap kali dia dipaksa untuk tetap berada di dalam wadah sementara dia ngelihat pohon-pohon lain tumbuh bebas. Dan menurut yang gue baca, seniman bonsai percaya tanaman itu punya jiwa, jadi gue cukup yakin setiap mereka melakukan kegiatan itu (memotong akar, memotong ranting, memberi kawat, dan semacamnya) mereka hampir bisa ngebayangin si bonsai yang menjerit-jerit. Tapi apa jadinya kalau mereka berhenti bekerja karena jeritan si bonsai? Apa jadinya kalau mereka males motongin itu akar-akar dan ranting-ranting?

Bisa bayangin ga, apa yang akan terjadi kalau taneman bonsai nggak lagi kerdil dan tumbuh di sebuah pot dangkal, melainkan malah jadi serupa dengan pohon-pohon yang lain?
Betul. Dia ga akan jadi spesial lagi. dia ga akan jadi taneman mahal bernilai jutaan yang unik dan beda dari taneman lain. dia ga akan lagi disebut-sebut sebagai “karya seni”. Buat apa orang ngabisin waktu dan uang untuk si bonsai kalau toh dia sama aja dengan pohon-pohon lainnya?

Nah, terus? Kenapa pengen jadi bonsai? Emangnya mau, dipotong-potong, dikawatin, dan segala macem itu?

Bukan, bukan. Bonsai di dalem pot itu gue umpamain sebagai diri sendiri. Sedangkan tanah bisa kita umpamain sebagai dunia. Dan sang Seniman, yah kalian ngerti dong siapa satu-satunya Seniman paling hebat sejak dari jaman dinosaurus belum ada sampe sekarang. Oke, jadi mungkin temen-temen udah bisa nebak kira-kira mau dibawa hubungan kita, eh analogi ini maksudnya.

Yup. Mungkin temen-temen udah sering denger ayat ini: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” (Rm 12: 2a) dan gue cukup yakin, banyak di antara temen-temen yang mungkin jauh lebih pinter dari gue soal mengartikan sebuah ayat, jadi gue ga mau sok menggurui. Kenapa? Ya tentu saja karena gue bukan guru. *apa sih*
Bukan, bukan. Kenapa gue ga menjabarkan lebih jauh adalah karena maksud gue di sini bukan mau menceramahi siapapun, melainkan cuma pengen share tentang cara membuat bonsai…eh salah, tentang kenapa saya pengen jadi bonsai.

Akhir kata *halah* adios amigos! :)

-mayol-

Monday, September 5, 2011

Kalau Aku Mati Besok

(ini tulisan lama, ketemu waktu lagi ngubek2 notes facebook. :) 

jalanan.
kerumunan manusia.
hiruk-pikuk kota.
pernahkah kau berusaha memperhatikannya?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

udara yang kau hirup.
angin yang berhembus.
rindang pepohonan.
pernahkah kau berhenti sejenak untuk merasakannya?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

sayup-sayup kicauan burung.
gemerisik dedaunan.
suara air yang mengalir.
pernahkah kau menyisihkan waktu untuk mendengarkannya?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

matahari yang bersinar–terkadang terlalu–cerah.
hujan yang turun dengan–terkadang terlalu–deras.
langit malam.
pernahkah kau menyempatkan diri untuk mensyukurinya?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

keluarga.
teman-teman.
orang terdekat.
pernahkah kau mengucapkan terima kasih atas hadirnya mereka dalam hidupmu?
tidak, aku rasa. atau setidaknya, aku pribadi–mungkin secara tidak sadar–memilih untuk mengabaikannya.

tapi kalau kelak aku tidak akan melihat mereka lagi,
kalau besok keberadaanku lenyap,
kalau aku hanya punya kurang dari 24 jam sebelum meninggalkan semuanya,
apa mungkin aku akan terus mengabaikan semuanya?

Wednesday, March 23, 2011

Saya dan Para Idola :D

mungkin saya adalah salah satu orang yang paling cepat berganti idola di dunia ini (yah atau seenggaknya di Indonesia raya tercinta ini deh :)
bahkan seorang teman sering bilang "kita lihat aja kali ini bakal bertahan berapa lama" setiap kali saya cerita tentang idola yang sedang saya kagumi. LOL
(saya masih tetep setia sama akang Josh Groban, tentu saja, hahahaha)

maklum, sebagai penderita sindrom "lemah terhadap pria tampan berpakaian rapi bertingkah bak superhero yang teramat-sangat gentleman dalam film drama" tingkat akut, idolaku selalu berganti-ganti terus dan terus dan terus dan terus dan terus (hahaha -___-) setiap kali ada film drama baru. dua tahun yang lalu, untuk pertama kalinya saya bukan tergila-gila pada aktor ataupun penyanyi cakep bersuara emas berhati malaikat, tapi pada penyiar *yang cakep juga* televisi swasta.
*pertanyaannya; apakah posting ini akan membahas tentang dia? ooo, tentu tidak... xD

tapi ya itu dia, ternyata itu juga salah satu efek dari sindrom yang saya derita. begitu film-film drama yang baru bermunculan, pesona si abang ganteng penyiar berita itupun hilang.. eh bukan hilang juga sih, tetep cakep dianya, tetep konyol dan tetep mempesona juga, tapi saya aja yang enggak lagi mati-matian bangun pagi untuk nonton acara yang dia bawa, enggak lagi selalu mereply atau me-retweet twitnya, dan tidak lagi getol cari info tentang dia, hahahaha...
jadi, seperti apa sebenarnya tipikal idola yang saya gila-gilai? *gila-gilai?? bahasa apaan ini???*
tidak ada stereotype tertentu, baik umur, kewarganegaraan, apakah dia berondong atau duda, atau semacamnya. satu-satunya yang membuat saya tergila-gila pada mereka awalnya ya karena tampilan mereka yang bak ksatria berkuda putih itu, dan kecintaannya pada Tuhan tentu saja, karena saya cukup kolot tentang siapa yang saya kagumi. :)

saya pernah ngefans sama Jude Law, tapi lalu ilfil dengan berita-berita tentang dia. *ecieehhh beritaaaa XD*
saya juga pernah jatuh cinta berat dengan Matthew MacFadyen waktu baru selesai nonton Pride and Prejudice (2005).
pernah juga sampe getol segetol-getolnya nyari info tentang Richard Armitage setelah saya ternganga menonton 4 episode North and South (2004).
tahun lalu saya bahkan sampai bilang "saya harus ke korea!" setelah senyam-senyum dan doki-doki menonton akting bang Chun Jung Myung di Cinderella's Sister.
Richard Gere, Hugh Grant, Song Seung Heon, James Marsden, Bae Yong Joon, Gong Yoo, Vic Chou, Oguri Shun, Naohito Fujiki, adalah sedikit dari banyak nama yang sempat saya igau-igaukan. *igaukan?? ada ya bahasa begitu? hahahaha*
bahkan saya pernah demen sama Grandpa Christoper Plummer setelah nonton The Sound of Music (1965)!
(haha, i know, i know, i'm THAT WEIRD, i know)
tapi ya itu tadi, semuanya pasti berlalu seiring dengan munculnya drama baru. *jjjjiiiiaaaahahahah!*

dan sekarang, siapa yang sedang saya taksir??
JRENG JRENG JRENG...


















tak lain dan tak bukan adalah bang Choi Si Won yang super-duper ganteng-menawan-hormat pada orang tua-baik hati-gemar menabung-ramah lingkungan-cinta tanah air itu!
iya, yang sekarang nampang di header dan background blog tercinta ini!
hahuhahuha...
kenapa saya bisa naksir? saya bahkan gak suka sama Super Junior! dan saya pernah mengejek teman saya yang demen sama si bang Si Won ini, mengira si teman naksir dia karena SuJu.
kenapa? mungkin saya terkena karma karena mengolok-olok si teman... hahaha.
enggak kok, enggak.
seperti yang udah saya bilang tadi, saya cukup kolot tentang faktor agama untuk orang yang saya idolakan.
Choi Si Won memang cakep, anak orang kaya, lembut, senyumannya punya efek maut, dan suaranya ga ngebosenin. tapi jantung saya langsung *GEDEBUK GEDEBAM* begitu tahu bahwa bang Choi Si Won adalah ANAK TUHAN.
dan yang paling bikin saya salut-jatuh cinta-bangga-terharu-terkagum-ternganga adalah dia benar-benar anak Tuhan, bukan cuma sekedar seorang yang labelnya seagama dengan saya.
dia bahkan dengan bangga selalu mengupdate kegiatan pelayanannya, yang tentu saja bikin jantung saya yang tadinya udah kaya marching band, makin kencang 10x lipat detakannya. *eyakk eyakkk lebay!*

pertanyaannya, seperti yang dikatakan teman saya *lagi* sewaktu saya bilang saya naksir Si Won DAN HARUS KE KOREA UNTUK MELAMARNYA DARI MR. CHOI senior adalah: kira-kira berapa lama si SiWon ini bertahan sebelum ada idola baru lagi?
kita lihat saja berapa lama, walaupun saya gak yakin bakal ada yang bisa menggeser si cakep ini dari hati saya untuk sementara waktu.
*ihiy!*
apakah SiWon akan terlupakan dalam jangka waktu kurang dari sebulan, atau dia bahkan berhasil menyamakan kedudukan (atau bahkan menendang keluar) Josh Groban dari hati saya?
kita tunggu saja!
*apasih apadeh dongdong hahahaha*

me: tadaima! | blog: ...okaeri! -___-

tadaima - okaeri adalah salam yang diucapkan orang jepang ketika pulang kerumah (tadaima) dan ketika menyambut penghuni rumah yang sudah pulang (okaeri). kenapa itu jadi judul postingan ini? simply karena aku sedang merasa jadi si 'anak hilang' yang baru saja menemukan jalan pulang ke 'rumah'. *SUPER HALAH!*
bahkan udah ga ingat ntah udah berapa lama blog ini ga ditulisi lagi. kalo ibarat rumah, mungkin lantainya udah ketutup debu setebal 10cm dan dihias sarang laba-laba. *bersih-bersih pojokan blog*
kehilangan semangat? nggak juga sih, agak gak tega dan gak mau bilang kalo aku kehilangan semangat. aku masih cinta tulis-menulis kok :)
tidak ada waktu? itu juga rasanya kurang tepat. nggak sesibuk itu juga deh.
sedang tidak mood? mungkin, walaupun rasanya kok ya agak kurang ajar, aku nggak mood mencoret-coret blogku sendiri. hahaha... *apa sih??*
intinya, aku pulang, blog! *peluk-peluk* hahahaha...
semoga aku akan sering menulisi kamu ya sayang... *kecup basah* XD

Saturday, September 4, 2010

aku ini segi tiga.

aku ini segi tiga.
pada awalnya, kau akan merasa aku terlalu pendiam.
kemudian kau mendapati bahwa sebenarnya aku tidak.
dan akhirnya kau takkan bisa memutuskan bagaimana aku sebenarnya.

aku ini segi tiga.
terjepit antara dua warna.
bukan, bukan sepolos putih.
dan tidak, tidak sekelam hitam.
tapi abu-abu.
ya, aku abu-abu.

aku ini segi tiga.
jangan sentuh sisi merahku, kalau kau tidak ingin merasakan amarahku.
dan jauhi sisi biruku, atau kau akan melihat betapa kelabunya aku.
tapi jamahlah unguku,
di sana aku akan menyelimutimu hingga kau lupa seperti apa rasanya menggigil beku.

aku ini segi tiga.
berubah-ubah bak diagram warna.
tidak peduli segemerlap apa, pada intinya aku adalah titik hitam sederhana.

aku ini segi tiga.
jangan mengharapkan keramahan dariku, seperti yang ditawarkan si lingkaran.
atau menginginkan ketegasan, seperti wibawa sang persegi empat.
sentuh aku, maka kau akan tertusuk oleh sudut-sudutku.
dan berdarah. lalu mati. 

aku ini segi tiga,
aku sudah memperingatkanmu.
tapi kalau kau tak keberatan terluka,
pada akhirnya kau akan sampai di titik pusatku.
dan tak ada lagi sudut tajam yang akan melukaimu.

=)

Analogi Piano dan Tuts Hitam Putih

hidup bak sebuah piano. 
kau, aku, kita, hanyalah tuts-tuts kecilnya. 
biarkan sang Pianis memainkan kita dengan kepiawaian yang dimilikiNya. 
tak jarang akan terdengar beberapa nada minor ketika kita saling bertabrakan, tapi percayalah kalau di akhirnya akan ada karya indah yang dihasilkan di hidup kita. 

(kalimat ini melintas waktu dengerin Clair de Lune-nya Claude deBussy)

Sunday, February 14, 2010

cuma sedikit sharing tentang Valentine...

kemarin, aku mendapat satu-dua buah pesan singkat yang mengucapkan selamat hari Valentine.
yang pertama membuatku terharu, tapi yang kedua tidak membuatku merasakan apa-apa.
ucapan selamat hari Valentine yang tanpa alasan entah kenapa justru membuatku mual.
*maaf, kalau mungkin aku terdengar sinis dan bahkan sarkastis*
dan maaf juga untuk yang mungkin merasa tersinggung.
entah sejak kapan, segala kehebohan orang-orang setiap kali menyambut Valentine mulai membuatku muak.
bukan, bukannya aku membenci cinta. St. Valentine justru adalah salah satu orang yang sangat kukagumi karena keberaniannya berkorban demi satu kata yang disebut 'cinta'.
dan walaupun aku tidak berani menyebut diriku sendiri sebagai salah seorang pengagum cinta, aku juga tidak lantas membenci kata-kata itu.
selebrasi yang berlebihan dan terkesan murahan dari orang-oranglah yang membuatku muak.
cinta itu bukanlah sesuatu yang harus dideklarasikan seheboh itu.
bukankah cinta adalah hal yang harus diselebrasikan setiap hari?
bukannya cinta itu seharusnya konstan, bukan musiman?
bukankah cinta adalah sesuatu yang harusnya dibuktikan lewat tindakan dan kesungguhan dan bukannya lewat hadiah dan kata-kata?
sadarkah, hai para Pecinta Muda, segala kehebohan tradisi Valentine ini cuma salah satu bentuk pembodohan dari para pebisnis?
dengan kedok hari penuh cinta, kita dimanipulasi untuk memberi cokelat, bunga, kado, atau apapunlah itu namanya.
tidak mengucapkan selamat hari Valentine membuat kita seolah mendapat cap sebagai orang yang tidak punya cinta.
tidak punya pasangan untuk merayakan Valentine membuat kita merasa gelisah dan malu.
apakah hal-hal itu memang penting?
kalian yang merayakan 14 Februari dengan begitu heboh, apakah di hari lain hati kalian memang senantiasa penuh cinta?
atau hanya di satu hari itu kalian mengistimewakan 'cinta' yang kalian agung-agungkan itu?
buatku pribadi, hal-hal sedangkal itu tidak bisa dijadikan tolak ukur dalam menilai perasaan cinta yang kita miliki.
apakah kalau aku lebih memilih mengucapkan "Selamat Hari Minggu" daripada "Selamat Hari Valentine" lantas membuatku menjadi orang yang tidak berperasaan?
tidak, aku rasa.
*tapi sekali lagi, itu pendapatku pribadi, jadi maaf kalau ada yang merasa tersinggung*
spread the love everyday everywhere...
=)

xoxo,
-y-


(gambar dari http://photobucket.com)


Sunday, February 7, 2010

happy Birthday Papa (050209)

happy birthday, Papa...
jangan sakit-sakit yaa,
tunggu aku sukses Pa, aku pengen buat Papa senyum dengan hasil jerih payahku...
aku sayang Papa...

Thursday, February 4, 2010

Kesendirian itu gak selamanya buruk, kok.

kesendirian.
terkadang banyak orang yang menganggap kata ini sebagai suatu momok.
tak jarang kata ini membawa ketakutan yang amat sangat.
akupun begitu.
terkadang, ketika hatiku dipenuhi dengan kegembiraan yang meluap-luap,
ketika begitu banyak teman yang setia berada di sampingku,
aku disergap ketakutan yang amat sangat ketika aku memikirkan bagaimana kalau suatu saat kesendirian itu akan datang padaku.
tapi, setelah dicermati,
sebenarnya sih keadaannya nggak semenakutkan itu kok.
bahkan, kalau aku pikir lagi sekarang,
semua orang justru sebenarnya tidak bisa bilang dia tidak butuh kesendirian.
ada kalanya kita merasa tidak ada seorangpun yang mengerti keadaan yang sedang kita alami.
ada juga saat ketika kita lupa untuk menghargai kehadiran orang-orang di sekitar kita.
dan di saat-saat seperti itulah, kesendirian hadir,
untuk membuat kita kembali mengingat arti mereka dalam hidup kita.
benarkah kita tidak membutuhkan mereka?
benarkah mereka tidak pernah mengerti keadaan kita?
atau justru kitalah yang menutup diri terhadap pengertian yang mereka coba tawarkan?
selama aku sendirian, aku belajar banyak hal.
aku belajar bahwa keluarga, bagaimanapun keadaannya, entah kita sadari atau tidak, selamanya akan jadi hal yang paling kita butuhkan.
aku belajar bahwa teman, tidak peduli bagaimana cacatnya mereka, adalah harta karun untuk hidup.
aku belajar bahwa selalu ada kesempatan kedua kalau kita benar-benar memintanya.
aku belajar untuk memahami apa yang aku inginkan.
aku belajar untuk mulai melakukan apa yang selama ini aku kira aku tidak bisa lakukan.
dan semuanya itu aku temukan dalam kesendirian.
kesendirian itu mengajarkan kita banyak hal, kalau kita bisa menenangkan diri dan menerimanya dengan baik.
jadi, sebenarnya kesendirian itu, kalau kita rasakan lebih dalam lagi, bukan hal yang buruk-buruk amat kok.
=)

-mayol-
( gambar dari http://i4.photobucket.com/albums/y110/-lee-/Loneliness.jpg)

Tuesday, January 19, 2010

Lilin vs Kembang Api


aku menyukai kembang api. aku selalu menyukainya, bahkan sedari aku masih kecil. aku suka melihat cahayanya. kedap-kedipnya. semua darinya membuatku merasa sedang berada dalam suasana spektakuler. suasana yang hebat, fantastis seperti di negeri dongeng.
di saat anak-anak lain memilih untuk menyalakan lilin dan membariskannya di sepanjang jalan setapak, aku lebih memilih untuk tetap memandangi kedap-kedip meriah dari si kembang api.
tapi setiap kali kembang api mulai meredup, sukacita dan perasaan berdebar-debar yang aku rasakan pun turut memudar. dan begitu kembang api itu padam, hal yang bisa aku lakukan hanya membuang sisanya ke dalam ember air atau got terdekat.
dan aku akan beralih pada lilin yang belum juga padam.
aku akan bermain dengan lilin dan memandangi cahayanya yang walaupun sederhana, namun tetap menemaniku sampai pagi menjelang.
yah, aku menyukai kembang api. siapa yang tidak suka? tapi jika aku harus memilih, akan menjadi apa diriku,
aku rasa aku akan lebih memilih lilin daripada kembang api.
ketika malam sangat meriah, ketika semuanya mengadakan perayaan yang gegap gempita, orang-orang pasti akan terkagum-kagum pada kembang api yang berkilau terang tinggi di langit. tapi semakin aku dewasa, aku mendapati kembang api itu semakin tampak angkuh. cahaya dan kilauannya yang teramat sangat indah dan penuh warna, memang menyenangkan untuk dilihat, tapi aku tidak bisa menggapainya. dia terlalu tinggi. dia hanya berkedap-kedip di atas sana tanpa mau memandang ke bawah, sebelum akhirnya dia padam. lalu orang-orang akan berpulangan dengan perasaan hampa.
tapi ketika orang-orang itu sampai di rumah dan mendapati rumahnya gelap, tanpa cahaya sedikitpun, pernahkah dia mengingat kembang api, berharap kembang api akan berada saat di rumahnya untuk menemaninya dalam gelap dan tidak membiarkannya sendirian?
tidak.
hal pertama yang terbersit dalam pikiran orang itu pastilah, "seingatku ada lilin di sekitar sini."
ya, ketika semuanya gelap, dan kita hanya sendirian, lilinlah yang akan kita cari, dan bukan kembang api.
lilinlah yang kita harapkan akan berada di sana dan menemani kita melewati malam dan menanti matahari bersinar, dan bukan kembang api.
ketika pagi menggantikan malam dan surya menggantikan bulan yang terlelap, kita akan melupakan keberadaan lilin.
bahkan mengucapkan terima kasih padanya pun kita tidak ingat.
tapi di saat malam berikutnya datang lagi, di saat kegelapan kembali, pernahkah lilin mengingat kesalahan kita?
tidak.
lilin akan tetap menyala, sehingga kita tidak akan merasa terhilang dalam gelap. lilin akan tetap menemani kita, tanpa menuntut kita untuk berterima kasih dan mengingat-ingat jasanya.
bagaimana dengan anda?
ingin menjadi kembang api, atau lilin???

(gambar dari http://www.cambridgefireworks.com/)

nilai A sebagai modal awal


sebenarnya mau ngepost ini kemarin, tapi entah kenapa sampe di rumah aku langsung lupa.
kemarin hari pertamaku ketemu dengan dia. Pak Henry namanya. dia salah satu dosen pembimbing untuk mata kuliah SPA-6 yang kuambil.
sebenarnya kemarin itu masih pengenalan mata kuliah aja, seperti yang biasa terjadi di minggu pertama perkuliahan.
tapi ada satu ucapan Pak Henry yang benar-benar membuatku tersadar.
jaid kemarin, waktu Pak Henry sedang berbicara masalah penilaian dengan kelas, dia bilang begini.
"kalian semua sudah mendapatkan nilai A di awal perkuliahan ini. sekarang, semuanya kembali kepada kalian, apakah kalian akan mempertahankan nilai itu sampai ke akhir, atau kalian akan melakukan 'korupsi' terhadap nilai itu. di akhir nanti, kita akan melihat, siapa yang bisa mempertahankan nilainya, dan siapa yang bahkan untuk mendapatkan D sajapun belum layak."
perkataan Pak Henry, bisa juga diambil untuk merefleksikan hidup.
sejak awal, Tuhan sudah memberikan kita nilai "A" sebagai bekal kita untuk menjalani hidup.
ya, nafas hidup dan talenta saja sudah merupakan modal awal yang sangat sempurna untuk kita.
terlepas dari kekurangan kita, sebenarnya modal dari Tuhan itu sudah sangat-sangat cukup untuk kita menjaid orang sukses. yah, banyak juga kan, yang tidak mendapat kesempatan untuk mendapatkan nafas hidup?
lagi pula, kalau kita diciptakan sempurna, dengan semua kelebihan tanpa ada kekurangan satupun, apa asyiknya hidup?
hidup pasti jagi suram, karena semua orang akan menjadi sangat-sangat individualis dan egois, karena toh mereka sudah bisa melakukan semuanya seorang diri bak superman, lantas apa gunanya berhubungan dengan orang lain?
tapi memang Tuhan yang sangat-sangat kreatif ini sudah merancang semuanya dengan sempurna, setiap orang diberikan kelebihan dan kekurangan agar dunia ini tidak menjadi planet Krypton yang dihuni oleh sekumpulan superman.
hanya saja dalam semua prosesnya, tidak semua orang sungguh-sungguh menggunakannya sebaik mungkin. tak jarang kita melakukan korupsi besar-besaran terhadap modal awal kita itu, sehingga pada akhirnya tercetuslah frase kata "orang gagal".
padahal, kalau kita pikir, apa mungkin Tuhan capek-capek menciptakan kita hanya untuk menjadikan kita orang gagal?
makasih Pak Henry, karena sudah menyadarkanku akan hal ini.
aku akan mengusahakan yang terbaik agar modal A yang sudah bapak berikan akan tetap seperti itu.
dan ketika nanti aku sudah berhasil, aku akan tunjukin postingan ini ke Bapak!
*untuk semuanya, maaf kalau postingan ini kesannya terlalu "tua" dan sok bijak ya*
mari sama-sama mempertahankan nilai A!!!

xoxo,
-mayol-
(referensi gambar dari http://thisdaythisage.blogspot.com)

Monday, January 18, 2010

gud nite, gud nite, gud nite.

aku percaya, tulisan yang paling indah adalah tulisan yang dibuat dengan jujur.
aku percaya, tulisan yang dapat menggugah pembacanya adalah tulisan yang merupakan ungkapan hati penulisnya secara tulus.
dan aku percaya, perasaan terharu ketika membaca sesuatu itu tidak bisa dibuat-buat.

gud nite flawless remembrance,
gud nite amazing thoughts,
gud nite glorious chills,
gud nite Vanilla Latte Homer.
=)

momma i miss you... =(





postingan ini aku tujukan untuk makhluk Tuhan paling hebat, ajaib, dan penuh kasih di seluruh dunia yang disebut "Ibu"
awalnya aku cuma mau googling foto ibu dan bayinya. tapi ujung-ujungnya, air mataku malah gak mau berhenti ngelihat foto-foto itu.
i cannot deny that i miss my mother too much.
(kemarin menangis semalaman saking kangennya, hikhik...)
aku tidak suka berbicara dengannya di telepon, karena setiap kali percakapan itu selesai, mood melodramatis sialan ini pasti akan kembali menyerangku.
yah, aku mungkin bisa menipunya dengan selalu terdengar riang di telepon,
tapi tetap saja aku tidak bisa membodohi diri sendiri bahwa aku terlalu merindukan dia.
aku merindukan masa-masa di mana aku masih sering beradu pendapat dengannya.
masa di mana aku berharap aku jauh dari rumah, sehingga tidak ada lagi yang menentukan
langkah-langkahku. harus ini, harus itu, mesti begini, harus begitu...
masa di mana aku selalu membuatnya marah karena kedegilanku.
masa ketika dia tak sanggup berkata-kata melihat betapa keras kepalanya aku.
(kan, nih udah mulai nangis lagi...)

Sunday, January 17, 2010

Mari Belajar pada Sampah!



"Buanglah Sampah Pada Tempatnya"
 kali ini, aku mau coba membongkar sejauh mana aku bisa belajar dari sampah. (thank's to Rentha, yang udah mencetuskan kalimat 'buanglah sampah pada tempatnya', hehehe.)
setiap manusia bisa diibaratkan tong sampah (oke, tolong jangan langsung membakarku hidup-hidup karena kalimat ini!)
bukan dalam artian buruk, kok. maksudku, kalau direnungkan, hidup manusia dari mulai awal hingga nanti berakhirnya itu, bisa diibaratkan tong sampah daur ulang.
ketika baru dilahirkan, kita tak ubahnya seperti tong sampah yang masih baru, yang walaupun disebut tong sampah, tapi masih bersih dan belum dikotori oleh noda apapun.

Saturday, January 16, 2010

Filosofi Sakura



rapuh.
kenapa aku mengambil gambar bunga sakura dan menuliskan kata rapuh di awal postingan ini?
jangan tanya aku.
tiba-tiba saja kata itu melintas di kepalaku waktu aku googling dan nemuin gambar sakura ini.
tapi karena toh udah mulai menulis, sekalian aja aku mencoba untuk menguraikan apa yang ada di otakku.
=)
bunga sakura adalah contoh sempurna-menurutku-untuk menggambarkan bagaimana seharusnya manusia hidup.
aku pernah baca di majalah, kalau yang namanya bunga sakura itu hanya mekar selama dua minggu sebelum akhirnya berguguran dan harus menunggu tahun berikutnya untuk kembali mekar.

I will Remember You (still, Lines by Sarah McLachlan)


(from http://typical-ayuni.blogspot.com)


I'm so tired but I can't sleep
Standin' on the edge of something much too deep
It's funny how we feel so much but we cannot say a word
We are screaming inside, but we can't be heard

I will Remember You (Lines by Sarah McLachlan)


 (from http://chalkhillscollective.wordpress.com)

 I will remember you
Will you remember me?
Don't let your life pass you by
Weep not for the memories

Friday, January 15, 2010

trapped


























(fromhttp://susan-kemp.com)