adalah manusiawi untuk mencari kasih.
dan sangatlah bisa dimengerti ketika seseorang merasa butuh untuk diperhatikan.
tapi bagaimana bila, untuk mereguk setetes perhatian,
untuk dapat menikmati indahnya secercah sinar pertemanan,
dia harus menyembunyikan wajahnya dalam topeng keceriaan?pentingkah itu?
pertemanan kah itu?
pentingkah kecacatan itu dikubur?
atau malah sebaliknya, dia harus membuka lukanya lebar-lebar dan menunjukkannya pada dunia?
tidak, tidak. tentu tidak.
pertemanan itu berada di antara keduanya,
namun juga bermakna lebih dari sekedar kedua pilihan buruk tadi.
tapi bagaimana bila dia tidak punya pilihan lain selain melakukan salah satu dari hal itu?
apakah demi menjaga prinsip pertemanan yang sesungguhnya,
adalah lebih baik untuknya tidak berteman dengan mereka yang menuntutnya untuk melakukan itu?
atau haruskah dia memaksakan diri, sambil terus mencari sosok teman yang sesungguhnya?
No comments:
Post a Comment