aku menyukai kembang api. aku selalu menyukainya, bahkan sedari aku masih kecil. aku suka melihat cahayanya. kedap-kedipnya. semua darinya membuatku merasa sedang berada dalam suasana spektakuler. suasana yang hebat, fantastis seperti di negeri dongeng.
di saat anak-anak lain memilih untuk menyalakan lilin dan membariskannya di sepanjang jalan setapak, aku lebih memilih untuk tetap memandangi kedap-kedip meriah dari si kembang api.
tapi setiap kali kembang api mulai meredup, sukacita dan perasaan berdebar-debar yang aku rasakan pun turut memudar. dan begitu kembang api itu padam, hal yang bisa aku lakukan hanya membuang sisanya ke dalam ember air atau got terdekat.
dan aku akan beralih pada lilin yang belum juga padam.
aku akan bermain dengan lilin dan memandangi cahayanya yang walaupun sederhana, namun tetap menemaniku sampai pagi menjelang.
yah, aku menyukai kembang api. siapa yang tidak suka? tapi jika aku harus memilih, akan menjadi apa diriku,
aku rasa aku akan lebih memilih lilin daripada kembang api.
ketika malam sangat meriah, ketika semuanya mengadakan perayaan yang gegap gempita, orang-orang pasti akan terkagum-kagum pada kembang api yang berkilau terang tinggi di langit. tapi semakin aku dewasa, aku mendapati kembang api itu semakin tampak angkuh. cahaya dan kilauannya yang teramat sangat indah dan penuh warna, memang menyenangkan untuk dilihat, tapi aku tidak bisa menggapainya. dia terlalu tinggi. dia hanya berkedap-kedip di atas sana tanpa mau memandang ke bawah, sebelum akhirnya dia padam. lalu orang-orang akan berpulangan dengan perasaan hampa.
tapi ketika orang-orang itu sampai di rumah dan mendapati rumahnya gelap, tanpa cahaya sedikitpun, pernahkah dia mengingat kembang api, berharap kembang api akan berada saat di rumahnya untuk menemaninya dalam gelap dan tidak membiarkannya sendirian?
tidak.
hal pertama yang terbersit dalam pikiran orang itu pastilah, "seingatku ada lilin di sekitar sini."
ya, ketika semuanya gelap, dan kita hanya sendirian, lilinlah yang akan kita cari, dan bukan kembang api.
lilinlah yang kita harapkan akan berada di sana dan menemani kita melewati malam dan menanti matahari bersinar, dan bukan kembang api.
ketika pagi menggantikan malam dan surya menggantikan bulan yang terlelap, kita akan melupakan keberadaan lilin.
bahkan mengucapkan terima kasih padanya pun kita tidak ingat.
tapi di saat malam berikutnya datang lagi, di saat kegelapan kembali, pernahkah lilin mengingat kesalahan kita?
tidak.
lilin akan tetap menyala, sehingga kita tidak akan merasa terhilang dalam gelap. lilin akan tetap menemani kita, tanpa menuntut kita untuk berterima kasih dan mengingat-ingat jasanya.
bagaimana dengan anda?
ingin menjadi kembang api, atau lilin???
(gambar dari http://www.cambridgefireworks.com/)

Kalau aku ingin sekali menjadi nyala obor.
ReplyDelete